Minggu, 18 Mei 2014

We Believe in You (chapter 2)

Title: We Believe in You (chapter 2)
Pair: KrisTao, slight! ChanBaek, HunHan, KaiSoo
Rating: M
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Length: 1008 words
Disclaimer: All EXO member and cast is belongs to their self.
Summary: Ketika Kris ingin pergi, dan Tao menahannya…
Cerita ini dibuat karena mengingat masalah yang sedang dihadapi EXO terutama Kris. Saya tidak bermaksud menyakiti ataupun mengingatkan pembaca dan semua fans EXO akan masalah yang sedang dihadapi EXO. Saya tetap berdo'a segala yang terbaik untuk EXO dan Kris. Mohon maaf jika cerita ini mengembalikan ingatan tentang masalah di SM Entertainment. Dan cerita ini sama sekali tidak dipergunakan untuk mengambil keuntungan maupun menjelekkan nama baik pihak manapun. Segala macam bentuk pujian, kritik, saran, bahkan flame diterima dengan senang hati. Flame atas cerita dan penulis sangat diperkenankan, namun tidak untuk semua karakter yang ada. Jika ada yang tidak berkenan atas warning di atas, dipersilahkan menutup tab yang anda buka. Budayakan mereview, pembaca yang baik adalah pembaca yang meninggalkan jejaknya.
.
.
.
Kris kembali berjalan-jalan tak tentu arah. Menyesali tindakan yang diambilnya tanpa bisa mencari jalan keluar yang baik. Dia tau ini salah. Tapi hanya ini satu-satunya hal yang bisa dipikirkannya. Dia lelah. Dia hanya ingin seperti biasa. Menjadi orang biasa. Tapi seharusnya dia sadar, dari awal dia memilih jalan ini, dia tau resikonya. Semuanya tak akan sama seperti saat dia di Kanada dulu. Seharusnya dia juga bisa mempertimbangkan saat Ayahnya melarang dia menjadi penyanyi.
Kris hanya mengikuti arah kaki membawanya. Saat dia sedang memutari sebuah taman yang sepi, dia terkejut saat mendengar suara pekikan seorang gadis. Dia mendongak dan melebarkan matanya.
"Kris oppa!" Teriak seorang gadis dengan badan besar sambil menarik tangan teman disebelahnya.
"Astaga, itu benar-benar Kris oppa!" Ucap temannya membalas. Kris panik, dia seharusnya tak berjalan-jalan saat situasi sedang seperti ini. Dia berlari secepat yang dia bisa. Menggunakan kaki jenjangnya itu untuk melangkah dengan cepat. Kris berbelok di ujung persimpangan di dekat toko roti. Meninggalkan dua gadis yang mengejarnya tadi. Kris pikir dia tidak ingin bertemu hal yang seperti itu lagi. Dan dia rasa dia benar. Dia segera melangkah dengan cepat menuju dormnya.
.
.
.
.
"Sudah ku bilang jangan dekati aku!" Luhan marah hingga melempar bantal busa yang ada di sampingnya itu. Dia benar-benar merasa kesal. Pada Kris, semua orang, dan dirinya sendiri. Dia sadar seharusnya ia tak berlaku kasar dan melampiaskan kekesalannya pada Sehun. Maknae EXO itu bahkan tak tahu salahnya apa. Sehun medudukkan diri di tepi ranjang Luhan. Mencoba meringsut sedikit ke arah hyung-kesayangan-, nya itu.
"Hentikan ini hyung. Berhenti bersifat kekananakan. Kris hyung melakukan itu pasti ada alasan yang jelas." Sehun mengelus-elus pucuk kepala Luhan pelan. Oh, lihat. Sekarang siapa yang lebih tua di sini. Luhan hanya menatap Sehun marah sambil mengerucutkan bibir menahan tangis. Dia malu untuk menangis lagi. Dia lebih tua dari Sehun. Luhan mengusap-usap matanya pelan.
"Okay, aku akan ambilkan air untuk mu. Tetaplah diam di sini hyung." Sehun beranjak dari ranjang Luhan dan membuka pintu kamar. Dia berpapasan dengan Minseok yang hendak masuk ke kamar. Dia hanya melihat hyungnya itu sekilas, lalu berangsur pergi.
Minseok yang melihat tatapan Sehun hanya mengidikkan bahunya pelan. Ia tahu Sehun punya ketertarikan lebih pada teman sekamarnya yang imut itu. Tentu saja. Luhan adalah orang dengan sejuta pesona. Dia juga mudah mengakrabkan diri dengan orang lain. Dan wajahnya yang-ugh-, Minseok harus akui manis sekali. Tapi dia hanya menyukai Luhan sebatas adik. Entahlah, dia terbiasa menjadi tempat sandaran adik manisnya itu dibanding tempat berbagi perasaan cinta. Minseok melangkah mendekati Luhan dan menyapanya pelan.
"Uhmm, Luhan. Kau baik-baik saja?" Tanyanya pada laki-laki manis itu. Luhan melirik ke arah Minseok saat pemuda itu mendekatinya. Ah, dia tak tahu harus berterima kasih seperti apa lagi saat hyung tersayangnya itu muncul di saat yang tepat-selalu-.
"Ah, aku tidak baik-baik saja. Bagaimana ini hyung-ah?." Luhan mendekatkan dirinya pada hyungnya itu, mengembangkan kedua lengannya. Minseok yang-selalu-, hafal maksud dari adik manisnya itu mendekat. Memeluk tubuh adiknya itu dengan kedua lengannya. Luhan selalu merasa nyaman dengan cara Minseok menenangkannya. Minseok adalah orang yang amat dihormatinya. Minseok yang baik, Minseok yang ramah, Minseok yang bijaksana, dan masih banyak Minseok-Minseok yang lainnya. Ah, dunianya terlalu dipenuhi hyungnya itu. Mungkin itu salah satu alasannya tak mau dipindahkan ke kamar si Lead vocal; Chen.
Minseok yang mendengar jawaban Luhan itu terkekeh pelan. Ia mencoba menenangkan Luhan.
"Tak apa. Terkadang seseorang memang butuh menangis. Aku, Kau, Kris, kita semua." Ucapnya bijak. Sambil menepuk-nepuk punggung adiknya itu kecil.
"Bagaimana ini hyung-ah? Kris akan keluar. Aku tak mau ada yang meninggalkan EXO. Siapapun." Luhan kembali terisak dan mencoba kembali menahan tangisnya. Dia ingin terlihat kuat. Mengatakan pada semua member bahwa dia baik-baik saja. Tapi dia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku tahu. Aku juga begitu. Tenanglah. Sekarang lekas tidur, aku akan berbicara lagi pada Kris." Ujar Minseok sambil menyelimuti Luhan.
"Oh. Okay." Luhan terlihat bingung. Ia tak tahu harus berkata apa saat Minseok mendorong tubuhnya untuk tidur. Tiba-tiba kepalanya pusing. Sehun membuka ganggang pintu sambil membawa segelas air untuk Luhan. Ia terkejut saat mendapati pose Luhan dan Minseok yang seperti itu.
"Ah, maaf. Ini airnya." Sehun meletakkan gelas berisi air mineral itu ke meja nakas dengan cepat. Napasnya sesak. Tangannya berkeringat dingin. Kakinya melangkah terburu-buru saat mendapati Minseok yang langsung merubah kembali posisinya.
"Sehun-ah, ini tidak seperti yang terlihat." Ucap Minseok sembari memperbaiki letak duduknya. Sehun masuk disaat dan waktu yang tidak tepat. Sehun pura-pura tidak mendengar apa yang hyungnya itu katakan. Dengan cepat ia melangkah ke pintu dan membantingnya dengan cukup keras. Cukup keras untuk membuat Luhan terlonjak kaget.
"Hah, ada apa dengan anak itu? Apa dia masih marah tentang masalah Kris tadi? Padahal tadi dia yang menyuruhku diam." Ucap Luhan sambil kembali membenarkan posisi selimutnya hingga ke leher.
'Pantas saja Sehun tidak mengatakan apapun pada bocah ini. Dia tidak peka.' Batin Minseok. Minseok berjalan menjauhi Luhan menuju pintu, sebelum dia menutup pintu dia menyuruh Luhan untuk segera istirahat. Minseok menghela napas pelan.
Semua terasa semakin berat saja. Kemarin dia merasa semuanya masih baik-baik saja. Dan sekarang dia dibuat bingung dengan keputusan yang diambil pemuda berhidung bangir itu.
Dia butuh tidur.
.
.
.
.
"Aku tidak bisa, mereka tidak akan mau. Apalagi Baekhyun, dia sangat keras kepala, kau tahu itu." Suho menghela napas lelah. Dia sudah cukup pusing mencari Kris yang sekarang entah dimana dan menghubungi ponselnya yang tidak aktif. Dia juga lelah karena harus membantu Chanyeol menenangkan Baekhyun yang mengamuk seharian. Dan sekarang salah satu staff yang bekerja di agensinya ini memintanya untuk mengambil pomsel semua member. Dia yakin mereka tidak akan mau memberikannya. Jadi dia putuskan untuk menolak.
"Kau pasti bisa, mereka akan menuruti mu Jun Myeon." Ucap staff itu sambil memperbaiki duduknya. Lihat betapa gusarnya wajah orang itu. Membuat Suho ingin memakinya saja.
"Mereka tidak akan menuruti ku. Aku memang leader, tapi hidup mereka tidak diatur oleh ku. Minta saja langsung pada mereka, aku tidak bisa." Suho segera beranjak dari kursinya saat dia mendengar suara staff itu kembali mengintrupsi langkahnya.
"Jika kau tidak mau, kau dalam masalah besar." Ucap laki-laki itu marah. Saat mendengar ancaman itu, dia sadar, dia harus memilih.
.
.
.
TBC
Terimakasih banyak kepada yang sudah sudi membaca fanfic yang saya buat ini. Saya harap saya tidak memperkeruh suasana. Hanya saja otak saya yang biasa-biasa saja ini dipenuhi oleh bayangan dan khayalan kalau ternyata Kris itu tidak keluar dari EXO. Apalagi semakin mendekati hari first solo concert mereka. Eh, denger-denger katanya kalo konser besok Kris gak dateng, anak-ank EXOstan yang pergi konser mau bikin Black Ocean. (Samudra hitam, jadi tidak ada lightstick Silver Pearl). Bener gak tuh? Ada yang bisa kasih kejelasan?
Agak kaget juga sama EXO-K yang tetap tegar di M!countdown dengan Baekhyun dan Suho juga yang tetap tampil di Inkigayo hari ini. Salut buat kalian guys.
Terimakasih juga buat semua anak-anak kpopers dari fandom lain yang ngasih support ke EXOstan. Well, haters tidak masuk hitungan pastinya.
Dan saya mau minta maaf yang sebanyak-banyaknya juga kalo chapter satu kemarin pendek sekali. (Ya, walaupun chapter dua ini juga pendek). Itu karena saya mau lihat respond seperti apa yang akan saya dapatkan saat mempublish fanfic ini.
Terima kasih unuk reviewnya kepada:
aliensparkdobi, Kirei Thelittlethieves, DahsyatNyaff, ayukaruniawati9, devimalik, ochaken, Agnia, Wenky MelI, Re-Panda68, novitawahyuu, HHSKTS, oneheartforsuju.
Saya agak sedih juga saat lihat Traffic Graph fic ini, yang baca ratusan, tapi yang mereview hanya segelintir. Well, saya tidak akan memaksa pembaca untuk memberikan saya review. Tapi alangkah baiknya kalau pembaca memberikan respond atas tulisan penulis.
Terimakasih sudah mau membaca curhatan hati saya.
Segala bentuk pujian, kritik, saran, bahkan flame diperkenankan. Pembaca yang baik adalah pembaca yang meningggalkan jejaknya.

We Believe In You

Title: We Believe In You (chapter 1)
Disclaimer: All EXO member and cast is belongs to their self.
Rated: M
Main pair: KrisTao, slight! HunHan, ChanBaek, KaiSoo.
Length: 645 words
Genre: Yaoi, Canon.
Summary: Ketika Kris ingin pergi dan Tao menahannya...
Cerita ini dibuat karena mengingat masalah yang sedang dihadapi EXO terutama Kris. Saya tidak bermaksud menyakiti ataupun mengingatkan pembaca dan semua fans EXO akan masalah yang sedang dihadapi EXO. Saya tetap berdo'a segala yang terbaik untuk EXO dan Kris. Mohon maaf jika cerita ini mengembalikan ingatan tentang masalah di SM Entertainment. Dan cerita ini sama sekali tidak dipergunakan untuk mengambil keuntungan maupun menjelekkan nama baik pihak manapun. Segala macam bentuk pujian, kritik, saran, bahkan flame diterima dengan senang hati. Flame atas cerita dan penulis sangat diperkenankan, namun tidak untuk semua karakter yang ada. Jika ada yang tidak berkenan atas warning di atas, dipersilahkan menutup tab yang anda buka. Budayakan mereview, pembaca yang baik adalah pembaca yang meninggalkan jejaknya.
.
.
.
"Jangan Pergi."
Tao memegang pergelangan tangan pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Entahlah. Dadanya bergemuruh.
Marah. Lelah. Sedih. Kecewa. Ada banyak hal yang ada dalam benak seorang Huang Zi Tao. Namun yang terlontar hanyalah kalimat tanya itu.
"Maaf. Aku harus." Ucap laki-laki yang ada di hadapannya.
"Tidak. Kau tak mengerti." Bantah Tao yang sedang menahan air mata. Oh. Dimana Huang Zi Tao yang hebat Wushu itu? Yang dibangga-banggakan orangtuanya saat masih sekolah dulu. Kini pun masih begitu. Tak berubah. Tapi pemuda yang di hadapannya ini melakukannya. Dia berubah. Membuat seorang Huang Zi Tao kehilangan pijakannya dalam sekejap.
"Kau yang tak mengerti." Balas yang lebih tinggi.
"Tidak Kris, tetaplah tinggal. Untuk ku, untuk kami." Dia jarang sekali memohon pada orang lain seperti ini. Tapi kali ini dia tidak bisa membiarkan egonya menang lagi. Ada yang lebih penting. Kris adalah orang yang penting-baginya-, untuk dipertahankan.
Pemuda-pemuda yang lain disekitarnya hanya diam memperhatikan. Namun hanya Tao yang tetap bersikeras seperti ini. Bukannya mereka tak mau tahu. Mereka hanya sudah terlalu lelah untuk meminta. Meminta Kris tinggal.
Luhan bahkan sudah menangis sedari tadi hingga matanya bengkak. Bahkan menjadikan maknae-Sehun-, menjadi karung tinju barunya. Yang ajaibnya kali ini tak marah dipukuli oleh hyung kesayangannya itu berkali-kali.
"Kita tim, semuanya akan berbeda tanpa mu. Kau leadernya." Kim Minseok, member tertua menengahi percakapan canggung itu. Dia harap dia bisa menahan Kris lebih lama. Entahlah.
"Tidak. Jun Myeon leadernya. Kau tahu itu hyung. Sudahlah, hentikan ini semua. Aku keluar karena aku ingin. Tak perlu menahanku." Kris berkata sembari melepaskan jemari-jemari lentik Tao dari pergelangan tangannya yang lelah. Ya, dia lelah. Fisik, juga mental. Dia hanya ingin bebas.
"Tidak gege. Kau tetap harus disini. Ada banyak hal yang harus kita lakukan." Oh. Bahkan sepertinya dia mulai tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Bibirnya bergetar. Dia takut. Bahkan lebih takut daripada saat masuk ke rumah hantu dulu.
"Sudahlah. Biarkan dia tenang dulu. Masuk ke kamar masing-masing." Akhirnya Jun Myeon angkat bicara. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia juga bingung.
"Kenapa kau malah begitu? Setidaknya tahan dia!" Tao mulai emosi. Dia kehabisan akal untuk membuat gege-kesayangan-nya itu untuk tetap tinggal.
Kyungsoo yang dari tadi hanya diam terlonjak kaget. Terkejut. Tak menyangka bahwa maknae Mandarin itu akan membentak. Kyungsoo yang terkejut takut, mulai menangis. Merutuki betapa bodohnya ia karena seharusnya laki-laki tidak menangis-pikirnya-.
"Oh. Ayolah. Sudahi ini. Kyungsoo hyung takut." Ujar Jong In sembari merangkul Kyungsoo dan menuntunnya ke kamar.
"Ak-Akku..Akuu..Aku hanya.."
"Sudah. Kalian semua kembali ke kamar. Sekarang!" Akhirnya sang leader marah. Tao jarang melihat hyungnya yang satu itu marah. Dan kalau sudah begitu, itu pertanda buruk.
"Kalau kau memang tak ingin Kris hyung pergi, lalu apa maksud postingan mu di Instagram itu?!" Baekhyun, pemuda yang dari tadi hanya diam itu akhirnya angkat suara. Tao kaget. Ia tertegun. Masalah di Instagram itu ternyata. Ia tak menyangka semuanya akan jadi serumit ini.
"Uhmm.. Yang i-itu a-aku..Manager.." Belum selesai Tao menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun sudah mengintrupsi.
"Oh. Begitukah kau Huang Zi Tao? Berpura-pura baik di depan Kris hyung? Apa maksud semua ini?! Kenapa kalian mau saja mengunfollow akun Kris?! Kalian takut?!" Ia marah. Baekhyun benar-benar marah. Dia bahkan nyaris menerjang Tao jika saja tangan besar Park Chanyeol tidak menahannya. Dia kesal. Dia mencakar lengan dan leher Chanyeol. Namun pemuda yang lebih muda beberapa tahun darinya itu tetap tak melepaskannya.
"Hentikan ini hyung. Kau menyakiti semua orang." Ucap Chanyeol pelan. Oh tidak. Baekhyun-nya-, menangis. Pemuda itu menangis sambil mencoba lepas darinya.
"Ya. Aku memang menyakiti semua orang. Lalu bagaimana dengan kau?! Dengan kalian semua?! Hanya menuruti apapun yang diperintakan manager. Benar-benar robot!" Baekhyun berteriak. Menjerit seperti wanita dengan suaranya yang melengking, lalu memijak kaki yang dibalut sepatu berwarna merah itu dengan kasar.
"Sudah. Hentikan. Aku pergi." Kris melewati Tao begitu saja dengan cepat. Tao bahkan tak punya keberanian untuk menahan pemuda itu lebih lama. Ia tahu Baekhyun benar. Ia memang salah.
Hari itu Tao menangis seharian.
TBC
Kepada semua pembaca, saya benar-benar minta maaf atas terpublishnya fanfic ini. Jujur, saya sendiri juga kaget saat tau tentang masalah yang sedang dihadapi member EXO. Saya sendiri, seorang penggemar EXO. Saya minta maaf jika ada yang tersinggung atas fanfic yang saya buat ini. Terimakasih karena setidaknya sudah mau untuk mencoba membaca fanfic ini. Pembaca yang baik, adalah pembaca yang meninggalkan reviewnya. Saya juga berdo'a mudah-mudahan EXO bisa mendapatkan jalan keluar terbaik atas masalah mereka. Jika ada yang ingin fanfic ini dihapus (jika menyinggung pihak tertentu) atau ingin dilanjutkan, silahkan tuliskan komentar anda di kolom review.

Rabu, 14 Mei 2014

BUNKASAI X UNIVERSITAS ANDALAS

Wahaha, setelah lama gue hiatus dari dunia per-blog-an, akhirnya gue balik lagi /nguk/
Yaaaa, maklum aja secara gue kan sekarang udah jadi Mahasiswa, so jadwal kuliah dan organisasi makin menumpuk aja.
Kali ini gue pengen ngebahas perihal Bunkasai. Maybe ada beberapa temen-temen yang kagak tau ama Bunkasai.
Fyi, Bunkasai itu adalah festival Jejepangan. Semua yang berhubungan tentang Jepang ada di Bunkasai ini.
And Fyi lagi, Bunkasai UNAND ini adalah Bunkasai terbesar se-pulau Sumatera. Tapi bukan berarti Bunkasai dari USU atau UNRI ga kalah hebat yaa.
Dan ngomong-ngomong soal USU, tahun ini kami kedatangan perwakilan dari USU sebanyak 25 orang. Yaa, hitung-hitung studi banding dan jalan-jalan. Sekalian mempererat tali silaturrahmi hehe.
Bunkasai kali ini adalah Bunkasai UNAND yang ke-sepuluh. So, karena satu dekade, harus meriah dong.
Kami mutusin buat bikin parade. Dengan rute dari PKM ke bundaran Rektorat, terus ke Pusat Bahasa, trus ke fakultas Hukum, FISIP, FIB, Pasca Sarjana, gedung E, dan berakhir di Auditorium.
Alhamdulillahnya, paginya enggak hujan.
Dan setelah itu, dilanjutin dengan pembukaan yang keren dan pastinya meriah.
Dan gue kebagian buat nari pembukaan Shoran Bushi. Kami sampe udah latihan empat bulan sebelum itu demi Bunkasai ini. And then... see?
Capeknya kebayar dehh, karena Bunkasai kami rameeee bgt.
Bahkan sampe hari terakhir penutupan makin rame. Capeek bgt. Tapi seneng bgt.
Di Bunkasai kami juga ada lomba-lomba Kanji, Kana, Shuji, Rodoku, Copsplay, Singcon, Dance, Acoustik, dll.
Di Bunkasai kami juga ada Obake house a.k.a rumah hantu. Trus ada stand Yukata. Ada stand-stand yang lain juga.
Anak-anak SaJe UNAND udah nqyiapin ini dari lamaaa bgt. Trus kami juga ngedekor Audit 4 hari.
Bikin bunga Sakura sama pohon yang ada saljunya.
Kami bikin gunung Fuji juga, terus ada bendera Merah-Putih sama bendera Jepang ama curut.
Pokoknya tiga hari ini bener-bener keren bgt.
Aku puas bgt sama kerja keras kami anak-anak SaJe angkatan 12 dan 13.
Thanks banget buat kalian semua.
Youuu rockkkkk guyssss!!!!

Selasa, 28 Januari 2014

EXO, from EXO planet

Di pagi hari yang cerah ini *ya elah* gue mau ngapdet blog, dan tulisan pertama gue di tahun ini.
gue pengen ngebahas tentang boyband yang bernama EXO.
yak, karena semenjak gue jadi Exotic (belum nama resmi) a.k.a fans dari EXO, gue mulai berpikir bahwa gue harus mendedikasikan /? blog gue tercinta ini buat EXO.
well, gue tau kalo ini udah telat banget buat nulis thread tentang mereka, secara mereka udah debut 2 tahun yang lalu, da orang orang seluruh dunia udah pada tau tentang EXO.
but, well. i guess, it just fine to make one thread for them. secara gue ga mungkin bikin dan ngelanjutin thread lain tentang EXO sebelum gue perkenalin siapa mereka.
ok, cincong gue kebanyakan dan bikin panjang kata pembukaan. langsung aja, cekidootttttt...


Dilansir dari Wikipedia, EXO (엑소) adalah boy band Korea Selatan-Cina yang dibentuk oleh S.M. Entertainment pada tahun 2011. Grup ini terdiri dari dua belas anggota yang terbagi menjadi dua sub-grup, EXO-K dan EXO-M, yang akan melakukan promosi secara bersamaan masing-masing di Korea Selatan dan Cina. Nama mereka diambil dari kata exoplanet, sebuah istilah untuk menyebut planet di luar Tata Surya. Singel debut mereka, "Mama", dirilis pada 8 April 2012, disusul oleh peluncuran album pertama Mama pada 9 April 2012.

Ini dia para membernya.


EXO-K

Suho (Leader) 수호 Kim Joon-myun 김준면 金俊绵 22 Mei 1991 (umur 22)  
Baekhyun 백현 Byun Baek-hyun 변백현 卞白贤 6 Mei 1992 (umur 21)  
Chanyeol 찬열 Park Chan-yeol 박찬열 朴灿烈 27 November 1992 (umur 21)  
D.O. 디오 Do Kyung-soo 도경수 度庆洙 12 Januari 1993 (umur 21)  
Kai 카이 Kim Jong-in 김종인 金钟仁 14 Januari 1994 (umur 20)  
Sehun 세훈 Oh Se-hun 오세훈 吴世勋 12 April 1994 (umur 19)  




EXO-M





Kris (Leader) 크리스 Wu Yifan 우이판 吴亦凡 6 November 1990 (umur 23)
Xiumin 시우민 Kim Minseok 김민석 金珉硕 26 Maret 1990 (umur 23)
Lu Han 루한 Lu Han 루한 鹿晗 20 April 1990 (umur 23)
Lay 레이 Zhang Yixing 장이싱 张艺兴 7 Oktober 1991 (umur 22)
Chen Kim Jongdae 김종대 金钟大 21 September 1992 (umur 21)
Tao 타오 Huang Zitao 황지타오 黄子韬 2 Mei 1993 (umur 20)

















 

Sabtu, 21 Desember 2013

SHINee - Colorfull

Hello, akhirnya aku nulis blog satu kali lagi setelah tadi malam nulis juga lewat laptop si Unyil *eh laptop si Kristi maksudnya. And owe mau lanjut mau preview MV barunya si SHINee yang judulnye Colorfull.
Pertama kali tau ni MV dari si Pauziah. Kemaren owe Whatsapp ma dia en we baru tau ada MV si SHINee yang berojol tiba tiba. Kaget banget secara gak ada pemberitahuan ape ape dari si lee so man, en waktu bangun tidur, ntu MV udah nangkring aje gitu. Setelah di kasih beberapa skrinshut dari si pau pau yang memperlihatkan betapa kecenya si Minho en kiyutnya si Taemin.
Setelah itu owe melesat ke TKP a.k.a Yutup buat liat ntu MV. And.... Jeng jeng!!!
yap! MV nya cetar membahana badai ala jambul khatulistiwa nye Sy*hrini.
Di situ kerasa banget nuansa natalnye. Iyelah, secara 4 hari lagi hari natal tiba.
Samaan ama 'adek' seperguruan nye si EXO, mereka juga bikin MV yang nuansa natalnya kerasa banget.
di situ juga di liatin perjalanan mereka selama setahun ini, dari bikin MV sampe pemotretan yang baju nye alay alay dahsyat bikin mata sakit.
Taemin tiba tiba berubah jadi ganteng gitu di MV ini. Walaupun tetep aja si Jamong urutan terakhir jadi cowok paling ganteng, well...setidaknya dia 'ganteng' wkwk.
mereka juga sambil masangin pohon natal gitu. En yang paling so sweet adalah si taemin mukenye ketutupan si Monkey bonekanya dia yang dia pegang :ngakak
yaaaa..mungkin itu dulu cuap cuap owe. Ntar posting lagi, bay bay

SHINee (Boys Meet You)

Tadaaaaaaaaaaaa...........!
hola, i'm back everyone *apasih*
hari ini owe bakal ngeshare dan sedikit preview tentang videonya si babang Jonghyun en de geng. ga muluk muluk sih, pas lagi nyari mv nya yang Everybody (baca: eperibadeh) di Youtube malah ketemu mv nya yang Boys Meet You. emang sih padahal yang duluan keluar itu MVnya yang ini. tapi kemaren baru sempet liat karena udah ga pernah lagi buka yutup, secara owe ga punya laptop en lagi panas-panas (?) nya kuliah. jadi ga sempet liat. and then, owe akhirnya putuskan buat liat ntu pidio karena pake wi*i.id yang laju banget tengaah malam di asrama owe. and.... tadaaaa...!!! owe shock berat pas tau kenyataan kalo Taemin disitu ganteng banget ampe tumpeh tumpeh gilak. dan si prince charming kita si Minho yaaa biasalah, dengan segala gaya sok cool nya yang bikin greget. dan babang Onew en Jamong yang bentar lagi bakal nyalon jadi presiden *eh* dan si emak kita ter-tjintah, Key yang selalu umbar umbar pesona kaki nye dimana mana /dor
But, honestly Jamong demi ape berubah jadi ganteng gitu *ditampar shawol* di MV ini yang bikin kul adalah yaa biasalah, kalo Jepang, pasti ga lari jauh jauh dari bikin MV di pantai yang mirip pidionya artis tetangga sebelah *lirik AKB48*. mereka bikin MV di pantai dengan segala kecantikan pemandangannya. dan yang bikin owe lebih terkejut lagi adalah, saat liat model mvnya si bocah bocah tengil (baca: SHINee) mirip banget sama orang Indonesia. kaget habislah owe liatnya. ane kira itu orang Indonesia yang jd model pidionye, ternyata, usut punya usut, yang jadi model mvnye SHINee ntu adalah si Oomasa Aya, yang notabene nya adalah aktris Jepang. nah, hilang lah kaget owe tadi menjadi biasa aja wkwkwkwk.
dan banyak juga para chingudeul yang lain berkomentar kalo ni pidio 'mirip' ama gaya gaya en style nye si 1D a.k.a One Direction. emang sih, temen sekamar owe yang biasa aja sama SHINee bisa ngenilai 'rada' mirip ama si boyband ganteng itu. but at least, owe tetep tjintah ama SHINee apapun dan bagaimanapun mereka. karena kalo kata orang, "cintailah sesuatu apa adanya, bukan ada apanya." *eeaaaa*
hari ini thread versi bijak ala si "super sekali", :ngakak
okeehh, itu aja. kalo pengen liat lebih lanjut, ni owe kasi link videonya si babang taemin en de geng, dadaaaahhhhh .

 

Sabtu, 02 November 2013

C.I.N.A oleh Bernardine Stefani

C.I.N.A “Kamu tahu apa yang paling ditakuti orang di dunia ini?” “Hmm, senjata api? Nuklir? Wabah?” “Bukan, bukan tiga-tiganya. Kamu tahu apa?” Aku yang mulai bosan dengan pertanyaannya yang berulang- ulang ini kemudian hanya menggeleng pelan sambil memasang ekspresi ‘wow aku sangat tertarik dengan apa yang sedang kau bicarakan’ terbaikku. “PENA,” ucapnya perlahan dengan nafas yang sedikit ditahan. Mungkin untuk mendapatkan efek dramatis, entahlah aku tak tahu. Yang pasti sekarang aku merasa canggung. Aku datang untuk diwawancara, bukan untuk mendapatkan kuliah dari Mario Teguh KW Super ini. Biar kujelaskan lebih dulu bagaimana situasiku sekarang. Umurku 21 tahun, bulan lalu aku baru saja lulus dari sebuah universitas ternama di Jakarta dengan nilai yang tidak cum laude, namun bisa dibilang cukup memuaskan untuk ukuran seorang mahasiswa yang hanya belajar jika keesokan harinya ada
ujian. Sedari SMA aku memang tidak pernah suka mengulang pelajaran di tempat lain selain di kelas. Menurutku, belajar ya di kelas, keluar dari kelas kau tidak boleh belajar. Yang harus kau lakukan adalah melakukan hal- hal yang bisa membuatmu melupakan kepenatan belajar di dalam kelas. Bagiku, hal itu adalah menulis. Aku sudah mulai menulis sejak lama. Tulisan pertamaku yang bisa kuingat adalah surat cintaku kepada teman sebangkuku di Sekolah Dasar. Namanya Ami. Pipinya selalu bersemu merah ketika tersenyum. Bau minyak kayu putih selalu tercium samar- samar menguar dari tubuhnya. Anehnya, aku suka bau itu. Bau itu mengingatkanku pada bau nenekku di kampung yang sudah berusia 70 tahun. Setelah itu aku terus menulis banyak hal. Puisi, cerpen, artikel, sampai surat opini. Namun, bodohnya tidak ada satu pun dari karya tulisku itu yang kuperlihatkan atau kucantumkan di tempat yang bisa dilihat oleh khalayak. Semua
itu hanya tersimpan rapi di rak bukuku, di dalam lusinan buku- buku catatan yang telah menemani waktu-waktu kosongku. Tersimpan rapi sampai hari ini. Hari di mana aku memutuskan mencoba berjudi dengan nasib, dan melamar pekerjaan di sebuah surat kabar yang bisa dibilang adalah pahlawan masa kecilku. Ya, kalau pahlawan masa kecil anak-anak kebanyakan adalah tokoh di dalam komik atau kartun animasi di televisi, pahlawan masa kecilku adalah sebuah surat kabar. Sebuah surat kabar yang telah memberi makan mulut-mulut di dalam keluarga intiku yang kecil. Ayahku adalah staf humas di surat kabar ini dan pensiun pada saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Ibuku adalah kepala bagian administrasi yang jatuh cinta kepada ayahku, seorang pemuda polos dari kampung yang sama sekali tidak terkontaminasi oleh pikiran- pikiran bulus orang kota. Tiap hari ayahku akan membawa pulang surat kabar gratis, dan kami bertiga selalu antri untuk membacanya. Kemudian, 21 tahun kemudian, di sinilah aku, duduk di ruangan kecil ber-AC ini, menyiapkan hati dan mental untuk apa yang akan kuhadapi selanjutnya. Laki-laki yang jika dilihat dari penampilannya itu sepertinya lebih tua dua kali lipat dariku, kembali melanjutkan pidato kecilnya. “Ya, sudah bertahun-tahun, berdekade-dekade, dan bahkan, berabad-abad, manusia menggunakan pena sebagai senjata andalannya. Sartre, Lu Xun, Li Bai, Kant, Gie, dan beribu- ribu nama lainnya menggunakan pemikiran dan tulisan untuk mengubah dunia. Bukan senjata. Bukan nuklir!” gaya bicara laki- laki ini seperti tokoh-tokoh dalam film-film, dengan ekspresi yang hidup, mata berbinar- binar, dan tangan yang selalu aktif bergerak mengikuti intonasi suaranya. Saat ia ingin agar kata-katanya lebih hidup dan berapi-api, ia membelalakkan matanya lalu menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Ini mengingatkanku pada film-film mafia Itali di mana para tokohnya sering menggerak- gerakkan tangannya seperti sedang mengukur sesuatu. “Dan itulah yang menginspirasi surat kabar ini untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Pena,” ujarnya dengan nada konklusif yang menyiratkan kepuasan akan apa yang telah dia sampaikan kepadaku selama setengah jam terakhir. “Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kamu siap atau tidak menjadi pewarta Pena. Seorang jurnalis harus menyajikan suatu kebenaran tanpa distorsi apapun, tidak peduli situasi apapun yang sedang dihadapinya. Ia harus menjadi terang di antara yang benar dan yang salah.” Bekerja di Pena merupakan impianku sejak kecil, dan harus kuakui apapun yang laki-laki ini lakukan, ia telah melakukannya dengan baik. Ia berhasil menantang hati nurani kecilku untuk menjadi yang sesuatu yang lebih dari aku yang sekarang. Aku mengangguk dengan perlahan namun pasti. “Bagus, nak. Saya sudah membaca dua karyamu yang kamu kirimkan via pos. Saya tahu ayahmu. Yang harus kamu ingat adalah, bukan karena ayahmu kamu bisa diterima bekerja di sini, namun karena dua bundel kertas yang kamu kirimkan ke saya minggu lalu. Dua-duanya luar biasa.” Aku mencerna kata-katanya sebentar, lalu bertanya dengan ragu-ragu. “Jadi..maksud Bapak, saya diterima bekerja di Pena?” “Selamat datang di Pena, nak,” ucap Pak Candra, itulah nama si Bapak ini, dengan senyum lebar di wajahnya dan tangan yang terbuka, menyambutku masuk ke dalam keluarga Pena. Hal selanjutnya yang kuingat adalah aku berlari pulang ke rumah, berteriak memanggil ibuku, memeluknya dan setelah itu aku masuk ke kamarku, menutup pintu dan berlutut. Kupejamkan mata, kuhirup nafas dalam-dalam dan mulai berbicara dengannya. Terima kasih untuk segalanya, Yah. Ayah memang selalu tahu yang terbaik untuk Wisnu. Wisnu akan selalu berpegang pada cita-cita Ayah. Menulis untuk mengubah dunia. Pasti. Seminggu pertama aku bekerja, Pak Candra sudah mengutusku ke berbagai tempat di Jakarta dan Pulau Jawa untuk meliput. Hal pertama yang kuliput adalah peluncuran buku seorang penulis wanita yang cukup kontroversial. Selanjutnya hari- hariku dipenuhi dengan tugas meliput kegiatan-kegiatan seni dan budaya. Setelah sebulan bekerja, Pak Candra mulai mempercayaiku untuk merambah ke bidang lainnya yang telah kuidam-idamkan sejak dulu, Ekonomi dan Politik. Krisis finansial Asia, peningkatan inflasi, sampai akuisisi sebuah bank ternama di dunia, dipercayakan oleh Pak Candra untuk kuliput. Aku merasa seperti di atas awan. Inilah pekerjaan yang sedari dulu kuimpikan. Bukan hanya mencintai apa yang kita kerjakan, namun juga mengerjakan apa yang kita cintai! Sampai suatu hari Pak Candra memasuki ruangan kantor dengan muka asam. Kami para jurnalis yang sedang sibuk menulis meliriknya sambil bertanya-tanya dalam hati tanpa ada yang berani mengungkapkan apa yang kami pikirkan. Ia berhenti sebentar di tengah ruangan, menyibakkan rambutnya ke belakang, menutup mata, lalu bertahan dalam pose itu selama beberapa detik sebelum menghela nafas panjang dan kemudian memanggilku. “Wisnu, masuk ruanganku lima menit lagi ya.” “Baik, Pak.” Wajahku menunjukkan ekspresi tenang meskipun hati ini sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Rekan- rekanku yang lain juga melemparkan pandangan penuh tanya ke arahku yang hanya kubalas dengan mengangkat bahuku sedikit. Setelah mengetik satu paragraf, aku pun bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan Pak Candra. “Masuk, Wis.” Lalu ia mengisyaratkanku untuk duduk. “Kita tidak bisa menulis hal-hal seperti kemarin lagi.” “Maksud Bapak? Seperti artikel penggelapan uang yang saya tulis kemarin?” Pak Candra tidak menjawab pertanyaanku, namun aku tahu diamnya itu berarti iya. “Tapi itu memang kenyataan, Pak. Itu yang saya dapat dari hasil wawancara dan observasi saya! Kalau itu tidak saya tulis, itu sama saja dengan membelokkan fakta, Pak!” “Iya, saya tahu. Saya sudah menjadi wartawan lebih dulu dan lebih lama dari kamu. Saya tahu betul tentang itu, Wisnu.” Pak Candra berhenti sebentar, mengambil kotak rokok bergambar Mao Zedongnya dan menyulut sebatang rokok. “Kamu tahu betapa sulitnya kakek saya dulu membangun surat kabar ini?” Aku menggeleng. “Sulit sekali bagi orang Tionghoa yang tinggal di sini untuk membuka sebuah perusahaan surat kabar. Bukannya kenapa-kenapa, tapi uang. Birokrasi selalu meminta uang yang lebih dan lebih lagi. Mereka pikir semua orang Cina pasti kaya. Surat kabar ini pernah nyaris bangkrut kamu tahu? Ayah saya dulu pernah menulis artikel yang menyinggung beberapa pihak, kemudian Pena ditutup selama tiga bulan sampai akhirnya Kakek saya membayar uang tebusan Ayah. Untuk menjalankan Pena kembali pun, masih saja dibutuhkan ini lagi,” cerita Pak Candra sambil membuat gerakan isyarat ‘uang’dengan tangannya. “Bapak..keturunan Cina?” “Tionghoa, Wis. Tionghoa. Kakek dan ayah saya, bisa mencak-mencak kalau dengar kata itu. Cina. Mereka berdua sepertinya sudah sakit hati sekali dengan kata itu. Korban rasisme mereka dulu,” Pak Candra tertawa kecil, membuang puntung rokoknya ke asbak, dan mulai menyulut batang yang kedua. “Eits, maaf, kamu mau?” ia menyodorkan kotak rokoknya kepadaku. Aku menggeleng pelan. Pak Candra pun melanjutkan ceritanya lagi. “Tapi kalau saya sih sudah bukan Cina lagi. Keturunan sih iya, cuma kamu lihat lah muka saya ini. Mata belo, kulit coklat, rahang macam orang Batak. Sering dikira orang Batak saya ini. Kebetulan pula aku ini orangnya senang ngerjain orang. Suka kali aku ngomong pake logat Batak macam ini. Bah!,” Pak Candra tertawa dan aku juga ikut tertawa. “Ibuku orang Cina-Flores, ayahku Cina totok dari Bangka- Belitong. Ibuku orang pertama yang membuat Ayah yakin bahwa perbedaan itu indah. Ada untuk dihargai, bukan untuk diinjak-injak. Manusia itu tidak boleh dikotak-kotakkan, kau tahu Wis? Kadang mereka lebih baik diplastikkin.” Lelucon Pak Candra yang terasa kering mau tak mau membuatku tertawa. “Intinya,” pak Candra mengangkat satu telunjukknya dengan telapak tangan menghadap ke arahku. Nada bicaranya kembali serius. “Intinya, aku masih punya keluarga yang harus kutopang. Apa kata anak istriku nanti kalau aku pulang membawa barang- barang dari kantor karena kantornya terpaksa harus ditutup? Mulai sekarang kita tidak akan menulis hal-hal seperti kemarin lagi. Kalau memang yang kita temukan adalah borok, ya tulis yang bagus-bagus saja, buang boroknya. Atau tidak usah kita tulis sama sekali saja.” Aku terdiam sebentar meresapi kata- katanya. “Tapi pak, apa kata anak Bapak saat ia sudah besar nanti, dan ia menemukan bahwa ayahnya hanyalah bentukan atau ‘pesanan’ birokrasi?” “Maka akan kuceritakan yang sesungguhnya, sehingga anakku tidak akan berakhir seperti bapaknya.” Idealisme lawan Realita. Pak Candra sang idealis yang ingin menjadi lilin di antara kegelapan akhirnya tunduk menyerah pada kenyataan. Ini seperti menonton film superhero dengan sebuah akhir yang menyedihkan. Namun Wisnu bukan Pak Candra. Aku tidak akan menyerah pada mereka yang ada di atas! Kekuasaan ada di dalam pena dan tulisan, bukan di dalam uang! Aku terus menuliskan tentang kebobrokan birokrasi meskipun Pak Candra telah melarangku. Setelah tulisan- tulisan itu terbit dan masuk ke dalam surat kabar, toh Pak Candra pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seorang penjaga sel membawa senapan berburu panjang membuka pintu sel. Di belakangnya dua orang pria dengan setelan rapi dan berjas putih panjang, sepertinya dokter, menatapku dengan teliti. Penjaga sel mempersilakan kedua dokter itu masuk, menutup pintu lagi, dan berdiri di depan pintu memperhatikan kami dengan seksama. “Halo, Candra.” “Aku bukan Candra! Aku Wisnu!” Kedua dokter itu saling berpandangan. Yang satu yang sepertinya terlihat lebih muda, menjelaskan situasinya kepada dokter yang lagi yang kira-kira berusia empat puluh tahun. “Candra Indra Natama Anggara adalah kasus kita yang cukup spesial, Dok. Ia mempunyai seorang ‘teman’ bernama Wisnu, yang sifatnya merupakan kontradiksi dari Candra. Sejauh analisis kami, Wisnu muncul dari tekanan yang dialami Candra. Wisnu adalah bentuk pemberontakan seorang Candra. Karena pemberontakan seorang Wisnu, maka sekarang mereka berdua ditahan di sel ini. Yang sedang kami coba yakinkan kepada para juri dan hakim adalah terdakwa memiliki penyakit jiwa yang menyebabkannya tidak bisa membedakan kenyataan. Dan seperti yang Dokter lihat tadi, yang ada di depan kita sekarang adalah Wisnu.” “Apa yang kalian bicarakan? Aku memang Wisnu! Pak Candra tidak ada di sini! Ia telah kalah! Ia bebas bersenang-senang di luar sana dengan para orang kaya itu, sementara aku di sini menang! Biarpun aku terkurung, tapi aku menang! Aku akan terus menulis sampai tanganku lumpuh. Tidak, bahkan setelah tanganku lumpuh, aku akan menulis dengan mulut. Kalau mulutku lumpuh, akan kutulis dengan kaki!” “Namamu bukan Wisnu. Kamu adalah Candra Indra Natama Anggara. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh lihat papan itu,” dokter yang lebih tua mengisyaratkanku supaya melihat ke papan putih yang digantung di kaki tempat tidurku. Di atas papan itu tertulis, Nama: C.I.N.A Tanggal: 21-02-1991 Penyakit: Skizofrenia/Gila